Skip to content
7iu.net

Vitamin D untuk Lansia: Dosis, Manfaat, dan Rekomendasi Suplemen

11 menit bacaOleh 7IU Editorial Team

Bangku taman bercahaya matahari dengan tongkat jalan, topi, dan botol vitamin D3 - konsep penuaan sehat

Mengapa Vitamin D Sangat Penting bagi Lansia?#

Jika Anda berusia 60 tahun ke atas, vitamin D untuk lansia mungkin merupakan salah satu suplemen terpenting yang perlu Anda pertimbangkan. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami perubahan fundamental yang membuat kekurangan vitamin D hampir tidak terhindarkan tanpa suplementasi yang tepat.

Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa hingga 70-80% lansia di seluruh dunia memiliki kadar vitamin D yang tidak mencukupi, menurut tinjauan oleh NIH Office of Dietary Supplements. Di Indonesia, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Penelitian oleh Setiati (2008) yang diterbitkan dalam Acta Medica Indonesiana menemukan bahwa lebih dari 35% lansia wanita Indonesia di panti werdha memiliki kadar vitamin D yang sangat rendah (di bawah 10 ng/mL), dan hampir 90% berada di bawah kadar optimal.

Kekurangan vitamin D pada lansia bukan sekadar masalah angka laboratorium -- dampaknya sangat nyata: tulang rapuh, risiko patah tulang meningkat, otot melemah, risiko jatuh lebih tinggi, penurunan fungsi kognitif, dan daya tahan tubuh menurun. Semua konsekuensi ini dapat secara drastis menurunkan kualitas hidup dan kemandirian pada usia lanjut.

Panduan ini membahas secara komprehensif semua yang perlu diketahui tentang vitamin D untuk lansia: mengapa kebutuhan meningkat seiring usia, berapa dosis yang tepat, manfaat spesifik untuk kesehatan lansia, serta bagaimana memilih dan mendapatkan suplemen yang tepat di Indonesia.

Mengapa Lansia Membutuhkan Vitamin D Lebih Banyak?#

Ada beberapa perubahan fisiologis terkait usia yang secara kumulatif membuat lansia memerlukan asupan vitamin D yang lebih tinggi:

1. Penurunan Produksi Vitamin D oleh Kulit#

Ini adalah faktor paling signifikan. Kulit manusia mengandung senyawa bernama 7-dehydrocholesterol yang diubah menjadi vitamin D3 ketika terpapar sinar UVB. Seiring bertambahnya usia, konsentrasi senyawa ini di kulit menurun secara signifikan.

Penelitian oleh MacLaughlin & Holick (1985) yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation menunjukkan bahwa kulit seseorang berusia 70 tahun memproduksi sekitar 75% lebih sedikit vitamin D3 dibandingkan kulit orang berusia 20 tahun, meskipun dengan paparan sinar matahari yang sama persis. Ini berarti bahkan lansia yang rutin berjemur tidak akan mendapatkan vitamin D dari matahari seefisien orang yang lebih muda.

2. Berkurangnya Paparan Sinar Matahari#

Lansia cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan karena berbagai alasan:

  • Keterbatasan mobilitas -- nyeri sendi, kelemahan otot, atau penggunaan alat bantu jalan
  • Tinggal di panti werdha atau rumah perawatan -- paparan matahari sangat terbatas
  • Kekhawatiran kesehatan -- menghindari terik matahari karena takut kepanasan atau dehidrasi
  • Perubahan gaya hidup -- lebih banyak waktu di dalam rumah setelah pensiun
  • Di Indonesia, banyak lansia juga diantar-jemput dengan kendaraan sehingga waktu di luar ruangan sangat minim

3. Penurunan Fungsi Ginjal#

Ginjal bertanggung jawab untuk mengubah 25-hydroxyvitamin D (bentuk penyimpanan) menjadi calcitriol (1,25-dihydroxyvitamin D), yaitu bentuk aktif vitamin D. Fungsi ginjal secara alami menurun seiring usia -- pada usia 70 tahun, efisiensi konversi di ginjal bisa berkurang 40-50% dibandingkan usia muda (Gallagher, 2013).

Ini berarti meskipun kadar 25(OH)D dalam darah cukup, tubuh lansia mungkin kesulitan mengubahnya menjadi bentuk aktif yang dibutuhkan.

4. Penurunan Penyerapan di Usus#

Penuaan memengaruhi kesehatan saluran cerna dan efisiensi penyerapan nutrisi:

  • Atrofi mukosa usus mengurangi area penyerapan
  • Penurunan produksi asam lambung memengaruhi pencernaan lemak (vitamin D larut lemak)
  • Penggunaan obat-obatan seperti antasida dan PPI yang umum pada lansia dapat memengaruhi penyerapan
  • Kondisi seperti celiac disease dan inflammatory bowel disease yang prevalensinya meningkat seiring usia

5. Berkurangnya Asupan dari Makanan#

Banyak lansia mengonsumsi kalori dan variasi makanan yang lebih sedikit:

  • Penurunan nafsu makan yang umum terjadi pada usia lanjut
  • Kesulitan mengunyah atau menelan membatasi jenis makanan yang bisa dikonsumsi
  • Pembatasan diet karena kondisi kesehatan (diabetes, hipertensi, ginjal)
  • Faktor ekonomi -- suplemen dan makanan bergizi tidak selalu terjangkau

Dosis Vitamin D untuk Lansia: Rekomendasi Lengkap#

Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia#

Kementerian Kesehatan RI menetapkan AKG vitamin D untuk lansia 65 tahun ke atas sebesar 20 mcg (800 IU) per hari. Ini lebih tinggi dibandingkan dewasa muda (15 mcg/600 IU), mengakui bahwa lansia memerlukan asupan yang lebih besar.

Perbandingan dengan Rekomendasi Internasional#

OrganisasiRekomendasi untuk LansiaTarget Kadar Darah
Kemenkes RI (AKG)800 IU (20 mcg)/hariTidak ditetapkan spesifik
NIH/IOM (AS)800 IU (20 mcg)/hari untuk 71+Minimal 20 ng/mL
Endocrine Society1.500-2.000 IU/hari30-50 ng/mL
International Osteoporosis Foundation800-1.000 IU/hariMinimal 30 ng/mL
American Geriatrics Society1.000 IU/hari minimum30 ng/mL
Batas Atas Aman (UL)4.000 IU (100 mcg)/hari-
Loading infographic...

Rekomendasi Dosis Berdasarkan Kadar Darah#

Dosis yang tepat untuk setiap lansia sebaiknya disesuaikan berdasarkan hasil tes darah 25(OH)D:

Kadar 25(OH)D Saat IniStatusDosis Harian yang DisarankanTujuan
Di bawah 10 ng/mLDefisiensi berat4.000-5.000 IU*Pemulihan cepat
10-20 ng/mLDefisiensi2.000-4.000 IUMenaikkan ke 30+ ng/mL
20-30 ng/mLInsufisiensi1.000-2.000 IUMencapai 30-50 ng/mL
30-50 ng/mLOptimal800-1.000 IUMempertahankan kadar
Di atas 50 ng/mLCukup/tinggi600-800 IUPemeliharaan aman

*Untuk defisiensi berat, beberapa dokter meresepkan dosis loading 50.000 IU per minggu selama 6-8 minggu, diikuti dosis pemeliharaan 1.000-2.000 IU per hari. Ini hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Penting: Batas atas yang dapat ditoleransi (Tolerable Upper Intake Level/UL) untuk semua dewasa adalah 4.000 IU per hari. Dosis di atas batas ini memerlukan pengawasan medis dan pemantauan kadar darah secara berkala.

Untuk panduan dosis vitamin D3 yang lebih komprehensif untuk semua kelompok usia, baca Panduan Dosis Vitamin D3 kami.

Manfaat Vitamin D untuk Lansia#

1. Mencegah Osteoporosis dan Patah Tulang#

Ini adalah manfaat yang paling terdokumentasi dan terbukti secara klinis:

  • Vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium dari usus (dari 10-15% menjadi 30-40% dengan kadar vitamin D yang optimal)
  • Mencegah hiperparatiroidisme sekunder yang mempercepat kehilangan tulang
  • Meta-analisis oleh Bischoff-Ferrari et al. (2005) dalam JAMA menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D 700-800 IU/hari mengurangi risiko patah tulang panggul sebesar 26% pada lansia

Patah tulang panggul pada lansia di atas 70 tahun memiliki angka kematian 20-30% dalam satu tahun pertama -- menjadikan pencegahan patah tulang sebagai prioritas utama kesehatan lansia.

Untuk informasi lebih lanjut tentang vitamin D dan kesehatan tulang, baca panduan kami tentang vitamin D untuk tulang dan pencegahan osteoporosis.

2. Mencegah Jatuh pada Lansia#

Jatuh adalah salah satu penyebab utama cedera dan kematian pada lansia. Vitamin D berperan penting dalam pencegahan jatuh melalui:

  • Menjaga kekuatan otot -- reseptor vitamin D terdapat di jaringan otot rangka; defisiensi menyebabkan kelemahan otot proksimal
  • Meningkatkan keseimbangan -- fungsi neuromuskular yang optimal memerlukan vitamin D yang cukup
  • Memperbaiki koordinasi -- vitamin D memengaruhi fungsi sistem saraf yang mengontrol gerakan

Menurut Mayo Clinic, suplementasi vitamin D yang adekuat dapat mengurangi risiko jatuh pada lansia hingga 20%. Sebuah meta-analisis oleh Bischoff-Ferrari et al. (2009) menunjukkan bahwa dosis 700-1.000 IU per hari efektif mengurangi risiko jatuh, sementara dosis di bawah 700 IU tidak menunjukkan manfaat signifikan.

3. Mendukung Fungsi Kognitif#

Hubungan antara vitamin D dan kesehatan otak semakin banyak diteliti:

  • Reseptor vitamin D ditemukan di berbagai area otak termasuk hipokampus (pusat memori)
  • Vitamin D memiliki efek neuroprotektif dan mendukung sintesis neurotransmitter
  • Studi besar oleh Littlejohns et al. (2014) dalam Neurology menemukan bahwa lansia dengan defisiensi berat (di bawah 10 ng/mL) memiliki risiko 53% lebih tinggi mengalami demensia dan risiko 70% lebih tinggi mengalami penyakit Alzheimer
  • Meskipun suplementasi belum terbukti secara definitif dapat mencegah demensia, menjaga kadar vitamin D yang optimal dianggap sebagai strategi pencegahan yang rasional

4. Memperkuat Sistem Imun#

Penuaan secara alami melemahkan sistem imun (immunosenescence), dan kekurangan vitamin D memperburuk kondisi ini:

  • Vitamin D meningkatkan produksi peptida antimikroba (cathelicidin dan defensin)
  • Mendukung fungsi sel T dan makrofag -- garda terdepan pertahanan tubuh
  • Membantu mengatur respons inflamasi untuk mencegah peradangan berlebihan
  • Mengurangi risiko infeksi saluran napas -- penyebab utama rawat inap pada lansia

Meta-analisis oleh Martineau et al. (2017) dalam BMJ menemukan bahwa suplementasi vitamin D mengurangi risiko infeksi saluran napas akut sebesar 12% secara keseluruhan, dan hingga 70% pada mereka yang memiliki defisiensi berat.

5. Kesehatan Kardiovaskular#

Beberapa studi observasional menunjukkan hubungan antara kadar vitamin D rendah dan peningkatan risiko kardiovaskular pada lansia:

  • Hipertensi -- vitamin D membantu mengatur sistem renin-angiotensin yang mengontrol tekanan darah
  • Kalsifikasi pembuluh darah -- vitamin D yang dikombinasikan dengan K2 membantu mencegah pengapuran arteri
  • Gagal jantung -- kadar vitamin D rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung pada lansia

6. Kesehatan Mental dan Mood#

Depresi dan gangguan mood sering terjadi pada lansia, dan vitamin D berperan dalam:

  • Sintesis serotonin -- "hormon kebahagiaan" yang memerlukan vitamin D untuk produksinya
  • Regulasi mood -- studi menunjukkan korelasi antara kadar vitamin D rendah dan peningkatan risiko depresi pada lansia
  • Kualitas tidur -- kadar vitamin D yang optimal dikaitkan dengan pola tidur yang lebih baik

Suplemen Vitamin D untuk Lansia di Indonesia#

Jenis dan Bentuk Sediaan#

Untuk lansia, pemilihan bentuk sediaan suplemen sangat penting karena banyak lansia mengalami kesulitan menelan kapsul atau tablet:

1. Tetes (Drops)

  • Pilihan terbaik untuk lansia yang kesulitan menelan
  • Dosis mudah disesuaikan (biasanya 400-1.000 IU per tetes)
  • Bisa diteteskan langsung ke mulut atau dicampurkan ke makanan/minuman
  • Penyerapan baik karena sudah dalam bentuk cairan berminyak

2. Softgel (Kapsul Lunak)

  • Mudah ditelan karena permukaan yang licin
  • Vitamin D3 sudah dilarutkan dalam minyak sehingga penyerapan optimal
  • Tersedia dalam berbagai dosis: 400 IU, 1.000 IU, 2.000 IU, 5.000 IU
  • Pilihan yang baik untuk lansia yang tidak mengalami masalah menelan

3. Tablet Kunyah

  • Alternatif untuk lansia yang lebih suka mengunyah daripada menelan utuh
  • Sering tersedia dalam rasa yang menyenangkan (jeruk, mint)
  • Pastikan dikonsumsi bersama makanan berlemak

4. Spray Oral

  • Disemprotkan ke mulut, diserap melalui mukosa
  • Sangat praktis untuk lansia dengan masalah menelan
  • Penyerapan cepat tanpa bergantung pada fungsi pencernaan

Merek Suplemen Vitamin D yang Tersedia di Indonesia#

Berikut beberapa kategori produk vitamin D yang tersedia di apotek dan toko suplemen Indonesia:

KategoriContoh ProdukKisaran HargaKeterangan
Vitamin D3 tunggalBerbagai merek lokal dan imporRp 50.000-200.000Tersedia dalam dosis 400-5.000 IU
Vitamin D3 + K2Kombinasi D3+K2Rp 100.000-350.000Ideal untuk kesehatan tulang lansia
Vitamin D3 + KalsiumSuplemen kalsium+D3Rp 80.000-250.000Banyak diresepkan dokter untuk osteoporosis
Multivitamin lansiaBerbagai merek multivitamin seniorRp 100.000-400.000Biasanya mengandung 400-800 IU vitamin D

Tips Memilih Suplemen untuk Lansia#

  1. Pastikan terdaftar di BPOM -- cek nomor registrasi di cekbpom.pom.go.id
  2. Pilih vitamin D3 (cholecalciferol), bukan D2 (ergocalciferol) -- D3 lebih efektif
  3. Perhatikan dosis -- sesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan hasil tes darah
  4. Pertimbangkan kombinasi D3+K2 -- untuk perlindungan tulang dan kardiovaskular optimal
  5. Cek interaksi obat -- konsultasikan dengan dokter atau apoteker jika mengonsumsi obat rutin
  6. Pilih bentuk yang mudah dikonsumsi -- tetes atau spray untuk yang kesulitan menelan

Di Mana Membeli Suplemen Vitamin D?#

Suplemen vitamin D tersedia di berbagai tempat di Indonesia:

  • Apotek (Kimia Farma, Century, Guardian, Watson's) -- pilihan terlengkap dan konsultasi apoteker tersedia
  • Toko obat -- harga sering lebih terjangkau
  • E-commerce (Tokopedia, Shopee, Blibli) -- perbandingan harga mudah, tapi pastikan toko resmi
  • Rumah sakit -- biasanya meresepkan langsung

Penting: Untuk lansia yang mengonsumsi obat-obatan rutin (obat jantung, pengencer darah, diabetes, dll.), selalu konsultasikan dengan dokter sebelum memulai suplemen vitamin D. Beberapa obat dapat berinteraksi dengan vitamin D atau memengaruhi metabolismenya.

Panduan Monitoring untuk Lansia#

Tes Darah 25(OH)D#

Untuk lansia, pemantauan kadar vitamin D melalui tes darah bukan opsional melainkan sangat penting:

Kapan harus tes:

  • Sebelum memulai suplementasi -- untuk menentukan dosis awal yang tepat
  • Setelah 3 bulan suplementasi -- untuk menilai apakah dosis sudah efektif
  • Setiap 6-12 bulan -- untuk pemantauan berkala setelah kadar stabil
  • Saat mengganti dosis atau obat -- beberapa obat memengaruhi metabolisme vitamin D

Interpretasi hasil:

Kadar 25(OH)D (ng/mL)Interpretasi untuk LansiaTindakan
Di bawah 10Defisiensi beratDosis loading + konsultasi dokter segera
10-20DefisiensiSuplementasi agresif (2.000-4.000 IU/hari)
20-30InsufisiensiTingkatkan ke 1.000-2.000 IU/hari
30-50OptimalPertahankan dengan 800-1.000 IU/hari
50-100Cukup tinggiAman, pertimbangkan menurunkan dosis
Di atas 100Berpotensi toksikHentikan suplementasi, konsultasi dokter

Ketersediaan tes di Indonesia:

  • Tersedia di laboratorium besar: Prodia, Kimia Farma, Biotest, dan laboratorium RS
  • Biaya: sekitar Rp 200.000-500.000
  • Beberapa rumah sakit sudah memasukkannya dalam paket pemeriksaan kesehatan lansia (medical check-up)

Pemeriksaan Lain yang Direkomendasikan#

Selain tes vitamin D, lansia sebaiknya juga menjalani:

  • Densitometri tulang (DXA scan) -- untuk menilai kepadatan tulang, terutama wanita 65+ dan pria 70+
  • Tes kalsium darah -- untuk memastikan tidak terjadi hiperkalsemia selama suplementasi
  • Tes fungsi ginjal -- karena ginjal berperan dalam aktivasi vitamin D
  • Tes PTH (hormon paratiroid) -- jika dicurigai hiperparatiroidisme sekunder

Interaksi Obat yang Perlu Diperhatikan#

Lansia sering mengonsumsi beberapa obat sekaligus (polifarmasi). Beberapa obat yang berinteraksi dengan vitamin D:

ObatInteraksiTindakan
Kortikosteroid (prednison, deksametason)Menurunkan penyerapan kalsium dan meningkatkan kebutuhan vitamin DMungkin perlu dosis vitamin D lebih tinggi
Antikonvulsan (fenitoin, fenobarbital)Mempercepat metabolisme vitamin D di hatiMonitoring kadar darah lebih sering
Orlistat (obat penurun berat badan)Mengurangi penyerapan vitamin D (larut lemak)Konsumsi vitamin D terpisah dari orlistat
Cholestyramine (penurun kolesterol)Mengurangi penyerapan vitamin DKonsumsi vitamin D 4-6 jam setelah obat
Obat diuretik tiazidMeningkatkan kadar kalsium darahMonitor kalsium darah secara berkala
WarfarinVitamin K2 (jika diminum bersama D3+K2) mengurangi efektivitas warfarinJangan konsumsi K2 tanpa persetujuan dokter

Gejala Kekurangan Vitamin D pada Lansia#

Gejala kekurangan vitamin D pada lansia sering kali disalahartikan sebagai bagian normal dari penuaan:

  • Nyeri tulang dan sendi yang dianggap "biasa karena usia"
  • Kelemahan otot -- terutama kesulitan berdiri dari kursi atau naik tangga
  • Kelelahan kronis yang tidak membaik dengan istirahat
  • Sering jatuh tanpa sebab yang jelas
  • Gangguan mood atau depresi
  • Infeksi berulang terutama infeksi saluran napas
  • Penyembuhan luka lambat

Jika Anda atau anggota keluarga lansia mengalami gejala-gejala ini, pemeriksaan kadar vitamin D sangat direkomendasikan. Untuk informasi lebih lanjut tentang gejala defisiensi, baca panduan kami tentang kekurangan vitamin D: gejala, penyebab, dan cara mengatasinya.

Kalkulator Konversi Vitamin D3#

Gunakan kalkulator interaktif kami untuk mengkonversi dosis vitamin D3 antara IU dan mcg:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)#

1. Berapa dosis vitamin D yang tepat untuk lansia di atas 60 tahun?#

AKG Indonesia menetapkan 800 IU (20 mcg) per hari untuk lansia 65 tahun ke atas. Namun, banyak ahli geriatri dan organisasi internasional merekomendasikan dosis yang lebih tinggi, yaitu 1.000-2.000 IU per hari untuk mencapai kadar darah 25(OH)D yang optimal (30-50 ng/mL). Dosis spesifik sebaiknya ditentukan berdasarkan hasil tes darah dan kondisi kesehatan masing-masing. Jangan melebihi 4.000 IU per hari tanpa pengawasan dokter.

2. Apakah suplemen vitamin D aman untuk lansia yang minum banyak obat?#

Vitamin D3 dalam dosis normal (800-2.000 IU/hari) umumnya aman dan memiliki sedikit interaksi obat yang signifikan. Namun, beberapa obat seperti kortikosteroid, antikonvulsan, dan cholestyramine dapat memengaruhi metabolisme vitamin D. Jika Anda menggunakan obat pengencer darah warfarin, berhati-hatilah dengan suplemen yang mengandung vitamin K2. Selalu informasikan dokter dan apoteker tentang semua obat dan suplemen yang Anda konsumsi.

3. Kapan waktu terbaik bagi lansia untuk mengonsumsi vitamin D?#

Waktu terbaik adalah bersama makan siang atau makan malam yang mengandung lemak, karena vitamin D adalah vitamin larut lemak yang penyerapannya meningkat hingga 50% ketika dikonsumsi bersama makanan berlemak. Hindari mengonsumsi vitamin D di malam hari menjelang tidur, karena pada sebagian orang dapat mengganggu produksi melatonin. Yang paling penting adalah konsistensi -- pilih waktu yang sama setiap hari agar tidak lupa.

4. Berapa harga suplemen vitamin D untuk lansia di apotek Indonesia?#

Harga suplemen vitamin D di Indonesia bervariasi tergantung merek, dosis, dan jumlah kapsul per kemasan. Secara umum, suplemen vitamin D3 tunggal berkisar Rp 50.000-200.000 per kemasan, suplemen kombinasi D3+K2 sekitar Rp 100.000-350.000, dan suplemen D3+kalsium sekitar Rp 80.000-250.000. Produk lokal yang terdaftar BPOM umumnya lebih terjangkau dan kualitasnya terjamin. Beberapa merek generik bahkan tersedia dengan harga di bawah Rp 50.000.

5. Apakah lansia yang rutin berjemur masih perlu suplemen vitamin D?#

Ya, dalam kebanyakan kasus. Meskipun berjemur membantu, kulit lansia memproduksi vitamin D 75% lebih sedikit dibandingkan orang muda. Ditambah dengan penurunan efisiensi konversi di ginjal dan berkurangnya penyerapan di usus, berjemur saja seringkali tidak cukup untuk mencapai kadar vitamin D optimal pada lansia. Suplementasi dengan dosis minimal 800 IU per hari tetap direkomendasikan, idealnya dengan pemeriksaan kadar darah untuk menyesuaikan dosis.

6. Apa tanda-tanda kelebihan vitamin D pada lansia?#

Kelebihan vitamin D (toksisitas) jarang terjadi pada dosis normal, tetapi bisa terjadi jika mengonsumsi lebih dari 10.000 IU per hari dalam jangka waktu lama. Tanda-tandanya meliputi: mual dan muntah, kehilangan nafsu makan, rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, konstipasi, kebingungan, dan kelemahan otot. Gejala ini disebabkan oleh hiperkalsemia (kelebihan kalsium dalam darah). Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, hentikan suplementasi dan segera konsultasikan dengan dokter.

Ringkasan Rekomendasi untuk Lansia#

  1. Dosis harian minimum untuk lansia adalah 800 IU (AKG Indonesia), namun banyak ahli merekomendasikan 1.000-2.000 IU per hari.
  2. Lakukan tes darah 25(OH)D sebelum dan selama suplementasi. Targetkan kadar 30-50 ng/mL.
  3. Kombinasikan dengan kalsium (1.000-1.200 mg/hari) dan vitamin K2 (100-200 mcg MK-7/hari) untuk perlindungan tulang optimal.
  4. Pilih bentuk sediaan yang sesuai -- tetes atau spray untuk yang kesulitan menelan.
  5. Konsumsi bersama makanan berlemak untuk meningkatkan penyerapan.
  6. Jangan melebihi 4.000 IU/hari tanpa pengawasan medis.
  7. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai, terutama jika mengonsumsi obat-obatan rutin.
  8. Tetap aktif secara fisik -- jalan kaki, latihan keseimbangan, dan latihan kekuatan membantu memaksimalkan manfaat vitamin D untuk tulang dan otot.

Referensi#

  • NIH Office of Dietary Supplements -- Vitamin D Fact Sheet for Health Professionals
  • Mayo Clinic -- Vitamin D
  • Holick MF, et al. Evaluation, Treatment, and Prevention of Vitamin D Deficiency: an Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2011;96(7):1911-1930.
  • Bischoff-Ferrari HA, et al. Fracture Prevention With Vitamin D Supplementation: A Meta-analysis of Randomized Controlled Trials. JAMA. 2005;293(18):2257-2264.
  • Bischoff-Ferrari HA, et al. Fall prevention with supplemental and active forms of vitamin D. BMJ. 2009;339:b3692.
  • Littlejohns TJ, et al. Vitamin D and the risk of dementia and Alzheimer disease. Neurology. 2014;83(10):920-928.
  • MacLaughlin J, Holick MF. Aging decreases the capacity of human skin to produce vitamin D3. J Clin Invest. 1985;76(4):1536-1538.
  • Gallagher JC. Vitamin D and Aging. Endocrinol Metab Clin North Am. 2013;42(2):319-332.
  • Martineau AR, et al. Vitamin D supplementation to prevent acute respiratory tract infections. BMJ. 2017;356:i6583.
  • Setiati S. Vitamin D status among Indonesian elderly women living in institutionalized care units. Acta Med Indones. 2008;40(2):78-83.
  • Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Related Articles